Falsafah Kepemimpinan Jawa: Menggali Nilai Tradisional dalam Konteks Politik Modern

Authors

DOI:

https://doi.org/10.70508/literaksi.v3i01.722

Keywords:

Hubungan luar negeri, Ideologi Jawa, Integritas teritorial, Kedaulatan, Kekuasaan, Keselarasan, Kreativitas, Makrokosmos dan mikrokosmos, Mancapat dan mancalima, Politik sastra, Rajah Kalacakra, Sastra Jawa, Sastra politik

Abstract

Kepemimpinan Jawa tidak selalu bersumber pada kekuatan fisik (kasekten), melainkan pada kualitas kepemimpinan universal yang bermutu. Sastra Jawa mencerminkan syarat-syarat kepemimpinan yang universal dan sering kali menjadi kendaraan politik untuk meneguhkan kekuasaan. Pemikiran tradisional Jawa berorientasi pada pusat kekuasaan dan menekankan ekspansi serta dominasi untuk mencapai perdamaian universal. Kepemimpinan Jawa cenderung anti-konflik dan menggunakan perintah halus, meskipun dalam konteks modern sering kali menyembunyikan kekuatan otoriter. Kisah-kisah wayang seperti Petruk Dadi Ratu dan tokoh punakawan seperti Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong menggambarkan pembangkangan terhadap pemimpin yang tidak layak dan pentingnya kejujuran serta kesederhanaan. Budaya politik Indonesia, terutama pada masa Orde Baru dan era reformasi, dipengaruhi oleh tradisi bapakisme dan korupsi model Soeharto, yang merusak kepercayaan rakyat terhadap pemerintah. Artikel ini juga membahas karya-karya R. Ng. Ranggawarsita yang memiliki elemen politik dan peran penting punakawan dalam menjalankan kehidupan. Kepemimpinan Jawa yang ideal digambarkan melalui tokoh-tokoh seperti Prabu Abiyasa dan Parikesit yang menyerahkan tahta dengan ikhlas dan selalu memikirkan nasib rakyat. Hubungan antara kehalusan dan kekuasaan sangat jelas dalam budaya Jawa, dan pemimpin yang menguasai Sastra Jendra akan memimpin dengan akal budi dan keadilan. Buku ini memberikan wawasan mendalam tentang falsafah kepemimpinan Jawa sepanjang zaman, dengan menggunakan pendekatan antropologi sastra, budaya, dan politik.

Downloads

Download data is not yet available.

References

Bawono, H. (2003). Petruk Nagih Janji. Kaset 1-7, Koleksi Radio Pertanian Wonocolo (RPW/ dulu RKIP), Wonocolo-Surabaya.

Berg, C.C. (1974). Penulisan Sejarah Jawa. Jakarta: Djambatan.

Cederroth, Sven. (2001). “Modernisasi Orde Baru dan Islam: Aparat Desa dan Tokoh Agama” dalam Kepemimpinan Jawa. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Eagleton, Terry. (2002). Marxisme dan Kritik Sastra. Terjemahan Roza Muliati. Yogyakarta: Sumbu.

Endraswara, Suwardi. (1988). Falsafah Kepemimpinan Jawa Tradisional. Surabaya: Jaya.

Poerbatjaraka, R.M.Ng. (1952). Kapustakan Djawi. Jakarta: Djambatan.

Ranggawarsita, R.Ng. (1997). Serat Paramayoga. Alih Aksara Kamajaya. Surakarta/Yogyakarta: Yayasan Mangadeg dan Centhini.

Ratna, Nyoman Kutha. (2005). Sastra dan Culture Studies; Representasi Fiksi dan Fakta. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Ratna, Nyoman Kutha. (2011). Antropologi Sastra; Peranan Unsur-unsur Kebudayaan dalam Proses Kreatif. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Saminana, Made I Dkk. (2006). Etika Politik dan Demokrasi. Salatiga: Percik dan Ford Foundation.

Setiawan, Ahmad. (1996). Perilaku Birokrasi dalam Pengaruh Paham Kekuasaan Jawa. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Stange, Paul. (1998). Politik Perhatian; Rasa dalam Kebudayaan Jawa. Yogyakarta: LKIS.

Subroto, Raden Ayu H. Bangun. (1957). Serat Tumuruning Wahyu Maja. Djakarta: Penerbit Balai Pustaka.

Additional Files

Published

2025-06-29

How to Cite

Saputro, R. F. M., & Asbari, M. (2025). Falsafah Kepemimpinan Jawa: Menggali Nilai Tradisional dalam Konteks Politik Modern. Literaksi: Jurnal Manajemen Pendidikan, 3(01), 42–47. https://doi.org/10.70508/literaksi.v3i01.722

Most read articles by the same author(s)

<< < 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 > >>